Apa pikiran anak ketika orangtuanya cerai



Perceraian adalah hal yang berat untuk keluarga, terutama untuk anak-anak. Kunci untuk menjalani perceraian "yang sehat" adalah membuat masa transisi yang lancar dan lingkungan yang stabil untuk anak.

Memang tidak ada pasangan yang ingin pernikahannya kandas. Keputusan bercerai adalah hasil dari pertimbangan yang matang dan kesepakatan bersama.

Tetapi, apa yang sebenarnya dipikirkan anak terhadap keputusan berpisah ayah ibunya?

1. Bukan orangtua yang gagal

Saat suami istri memutuskan bercerai, mereka sering dihantui rasa bersalah dan gagal sebagai orangtua. Tidak demikian halnya dengan anak-anak, mereka tidak menilai ayah ibunya dari perpisahan yang dilakukannya.

Status pernikahan seharusnya memang tidak menjadi ukuran kemampuan membesarkan anak. Setiap anak ingin orangtuanya tahu bahwa mereka tetaplah ayah dan ibu terbaik untuknya.

2. Jangan bicara buruk

Berapa kali Anda sudah mengatakan hal-hal buruk tentang mantan istri atau suami di depan anak-anak? Walau mungkin si mantan memang berlaku buruk, tetapi tidak sehat bagi anak-anak mendengar ayah atau ibunya dijelek-jelekkan.

Anak-anak mencintai kedua orangtua dan ingin berada di dekat mereka. Ia mencintai Anda, tapi juga memiliki cinta yang sama untuk mantan Anda.

Mengatakan hal-hal buruk tentang mantan pasangan Anda bukan hanya membuat anak merasa sedih, tapi juga menyebabkan stres. Seperti halnya pada orang dewasa, stres juga bisa berdampak buruk pada anak-anak.

3. Jaga perilaku

Sebagian orang bercerai tetapi tetap berteman, bahkan menghadiri kegiatan sekolah anak bersama-sama layaknya sebuah keluarga. Namun, sebagian besar berlaku sebaliknya. Bukan cuma diam-diaman, setiap pertemuan adalah ajang percekcokan.

Dampak dari perseteruan yang tidak selesai-selesai itu akan memiliki dampak seperti ketika anak masih tinggal dalam satu rumah tapi ayah dan ibunya sering bertengkar. Makin sulit Anda berdamai dengan mantan pasangan, makin sulit pula anak menerima perceraian itu.

Setiap anak mencintai ayah dan ibunya dan ingin orangtuanya akur meski sudah berpisah. Mereka tidak ingin merasakan energi negatif di sekitarnya. Jadi, demi anak-anak mulailah menahan diri untuk tidak bertengkar lagi dengan mantan pasangan di depan anak-anak.

4. Punya hak untuk membicarakan ayah atau ibu

Anak-anak senang menceritakan apa yang dialaminya, termasuk tentang orangtuanya. Ketika si kecil yang hidup bersama mantan pasangan mengunjungi Anda, mereka juga mungkin akan menyebut mantan Anda dalam pembicaraan.

Jangan larang anak membicarakan tentang mantan pasangan Anda karena itu bisa menyebabkan mereka sedih dan cemas. Larangan itu juga bisa membuat mereka enggan bercerita hal lain pada Anda.

Akan ada masanya pula ketika anak sudah beranjak besar dan mengeluhkan pola asuh mantan pasangan Anda. Tahan diri untuk tidak berkomentar buruk. Dengarkan apa yang disampaikan anak dan cobalah memberikan saran yang tepat.

5. Pahami kebutuhan anak

Mendiskusikan tentang hak asuh anak serta waktu untuk bertemu anak merupakan bagian dari proses perceraian. Meski Anda benci pada si mantan, tahanlah ego Anda dan utamakan kepentingan serta kebutuhan anak.

Anak-anak juga memiliki perasaan dan mereka perlu memahami apa yang terjadi antara ayah dan ibunya. Selalu pertimbangkan emosi yang dialami anak saat Anda dan si mantan mendiskusikan tentang hak asuh.

Komentar